Selamat Datang

Selamat Berkunjung ke Blog Inspirator Wirausaha di Desa.


Yus Machrus, Pengelola Blog Desa Wirausaha.

Wednesday, January 21, 2015

Desa Jamblang Kec. Jamblang Kab. Cirebon : Nasi atau Sega Jamblang Makanan Khas Cirebon asal Desa Jamblang


Gambar : Sega Jamblang










Sumber : Blog Budaya Cirebon



Nasi Jamblang atau biasa disebut Sega Jamblang merupakan makanan/kuliner khas Cirebon. Disebut sega karena orang atau wong Cirebon menyebut nasi dalam bahasa daerahnya adalah sega. Nasi Jamblang Cirebon merupakan salah satu kuliner Nusantara yang patut dilestarikan, karena Nasi Jamblang memiliki cita rasa, originalitas dan ciri khas tersendiri.


Asal mula nama Nasi/Sega Jamblang bukan dari nama sebuah pohon yaitu pohon jamblang, tetapi konon berasal dari sebuah nama desa di sebelah barat Kota Cirebon yaitu Desa Jamblang Kecamatan Jamblang Kabupaten Cirebon. Hal tersebut karena di desa itu banyak warganya yang menjajakan nasi jamblang sehingga munculah ide untuk menjadikan nama nasi yang di bungkus oleh daun jati tersebut dengan nama nasi/sega jamblang.

Salah satu ciri khas atau keunikan yang sangat melekat pada Nasi/Sega Jamblang ini adalah pembungkus nasinya yang menggunakan daun jati. Bagi yang baru pertama kali mencicipi nasi Jamblang, memang agak sedikit aneh melihat tekstur daun jati sebagai pembungkus nasi Jamblang. Namun jangan khawatir karena daun jati tersebut sudah dibersihkan terlebih dahulu dan tidak akan tercium aroma apapun dari daun jati. Dipilihnya bungkus nasi dari daun jati karena mengingat bila nasi dibungkus dengan daun pisang maka nasi tersebut kurang tahan lama sedangkan dengan pembungkus dari daun jati maka nasi bisa tetap terasa pulen serta membuat nasi tidak akan cepat basi. Hal itu karena daun jati memiliki pori-pori yang membantu nasi tetap terjaga kualitasnya walaupun terbungkus dalam waktu yang cukup lama. Selain itu, daun jati memiliki tekstur walaupun kulitnya kasar tetapi tidak mudah sobek, dan rusak.

Sebenarnya tidak terlalu istimewa pada nasinya selain rasa pulen, ukuran nasinya tidak terlalu banyak, hanya segenggaman tangan orang dewasa atau bisa juga dikatakan porsinya mirip dengan nasi kucing. Namun uniknya, nasi yang terbungkus daun jati tersebut tidak disediakan dalam kondisi panas atau hangat. Hal itu sengaja terjadi bukan tanpa alasan, tetapi karena setelah nasi matang, nasi tersebut langsung dikipas, dan diangin-anginkan untuk didinginkan terlebih dahulu beberapa jam, baru setelah itu dibungkus dengan daun jati. Alasannya yaitu bila nasi tersebut dibungkus dengan daun jati pada saat panas maka akan membuat nasi berubah menjadi merah, dan itu yang tidak diinginkan oleh pembuat maupun pembelinya. Selain itu, hal inipun bisa membuat nasi tahan lama.


Nasi tidaklah terpisahkan dengan lauk pauk atau menu pelengkapnya. Begitupun bagi Nasi atau Sega Jamblang dengan menu pelengkap yang bisa anda pilih sesuai selera. Berbagai varian menu pelengkap yang juga memiliki cita rasa yang khas, seperti sambal goreng merah (sambal ini cukup khas dan terasa agak manis), tahu sayur, paru-paru (pusu), semur hati atau daging, perkedel, sate kentang, sate telur puyuh, sate udang, telur dadar, telur goreng, telur masak sambal goreng, semur ikan, ikan asin, tahu dan tempe serta tidak ketinggalan ‘blakutak’, sejenis cumi-cumi yang dimasak bersama tintanya. Sebagai orang yang beberapa kali menikmatinya, Nasi atau Sega Jamblang terasa begitu sangat istimewa terlebih lagi dengan adanya sambal goreng merah dengan alas daun pisang berbentuk bundar kecil yang begitu nikmat sehingga membuat “kecanduan” untuk meminta ditambah terus dan tempe gorengnya yang “kriuk” luar dalam.


Menikmati atau mengkonsumsi Nasi atau Sega Jamblang tidaklah sempurna bila menggunakan sendok dan garpu karena anda akan semakin larut pada nuansa tradisional yang dihadirkannya. Oleh karena itu, akan lebih nikmat dimakan secara tradisional dengan ’sendok jari’ dan alas nasi beserta lauk pauknya tetap menggunakan daun jati.

Gambar : Warung Sega Jamblang










Sumber : Blog Blok Kliwon


Untuk menemukan pedagang Nasi atau Sega Jamblang di Kota Cirebon sambil menikmati pemandangan di depan Grage Mall di Jalan Tuparev, anda bisa mendatangi salah satu rumah makan Nasi Jamblang yang terkenal Cirebon adalah Nasi Jamblang Mang Dul yang berlokasi di Jl. Cipto Mangunkusumo 3. Disitu anda menikmati makanan tersebut dengan duduk di kursi dalam satu ruangan. Tetapi bila ingin menikmatinya di ruang terbuka pinggir jalan, anda bisa mendatangi deretan warung tenda tepat di sebelah selatan Grage Mall. Selain diseputaran Grage Mall, anda juga bisa menemukannya di sekitar jalan Pekalipan maupun di emperan jalan Siliwangi, namun di tempat ini anda mungkin bisa duduk tanpa meja, atau duduk ditanah beralaskan sandal juga tanpa ruangan atau tenda. Bukan hanya di Kota Cirebon dan juga daerah asalnya di Desa Jamblang saja, nasi atau Sega Jamblangpun sudah merambah ke wilayah ibu kota Jakarta dan kota- kota besar lainnya di pulau Jawa. Konon bagi anda yang berdomisili di daerah Semarang anda bisa mengunjungi warung nasi jamblang di depan SMP 16 Ngaliyan Semarang yang berkonsep lesehan kaki lima.


Nasi atau Sega Jamblang bukanlah makanan yang sengaja dikonsep mendadak untuk menjadi makanan atau kuliner khas Cirebon. Keberadaan makanan ini terjadi melalui sebuah sejarah.

Sebuah blog bernama Disbudpar Kabupaten Cirebon menerangkan bahwa sejarah atau asal usul Nasi Jamblang Cirebon ini di mulai pada tahun 1847. Dimana pada saat itu, pemerintah kolonial Belanda sedang membangun beberapa pabrik gula di wilayah Gempol Palimanan, pabrik gula Plumbon, dan pabrik spirtus di Palimanan. Dengan dibangunnya pabrik pasti akan membutuhkan banyak tenaga kerja yang berasal dari warga di wilayah kawedanan Palimanan, Plumbon di Kabupaten Cirebon bagian barat dan daerah sekitarnya. Banyaknya para pekerja di ketiga pabrik tersebut seperti gayung bersambut, karena jelas pasti akan membutuhkan banyak pekerja atau buruh. Baik untuk perkebunan sebagai buruh lepas maupun di pabriknya itu sendiri terutama dibagian perbengkelan, transportasi, administrasi dan bagian keamanan pabrik. para buruh yang datangnya dari jauh seperti Sindangjawa, Cisaat, Cimara, Cidahu, Ciniru, Bobos dan Lokong harus pagi pagi buta berangkat dari rumah. Mereka membutuhkan sarapan sedangkan penjual nasi belum ada. Pada waktu itu ada anggapan bahwa menjual nasi itu tidak boleh atau pamali, ini bisa dimaklumi karena peredaran uang masih sedikit, bahkan orang tua kita dulu banyak menyimpan padi atau beras. Mereka berfikir tidak menyimpan uang tidak apa-apa, namun apabila tidak menyimpan padi atau beras bisa sengsara, karena ada rasa ketakutan tidak bisa makan. Dan pada akhirnya ada seorang warga yang bernama Ki Antara atau H. Abdulatif dan isrtinya Ny. Pulung atau Ny Tan Piauw Lun yang melihat banyak buruh lepas pabrik yang mencari warung penjual nasi, maka Ki Antara memberanikan diri untuk memberikan sedekah beberapa bungkus nasi kepada para pekerja tersebut. Rupanya berita ini menyebar dari mulut ke mulut, yang pada akhirnya semakin bertambah banyak pekerja yang meminta sarapan pagi. Ny. Pulung selalu menolak setiap pemberian uang dari para pekerja terbebut, namun para pekerja menyadari bahwa segala sesuatu dapat dibeli harus mengeluarkan uang. sehingga lambat laun para pekerja sepakat hanya memberikan imbalan ala kadarnya kepada Ny. Pulung. Sumber lain dari Situs Web Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat menerangkan bahwa Sega Jamblang adalah makanan khas Cirebon yang pada awalnya diperuntukan bagi para pekerja paksa pada jaman Belanda yang sedang membangun jalan raya Daendels dari Anyer ke Panarukan dengan melewati wilayah Kabupaten Cirebon, tepatnya di Desa Kasugengan.


Ditulis oleh : Yus Machrus







Desa Glagahwaru Kec. Undaan Kab. Kudus : Jajanan Khas Tradisional Tiwul















Jajanan Tiwul


Tiwul adalah jajanan khas tradisional yang masih eksis dipasarkan di Kecamatan Undaan Kabupaten Kudus Provinsi Jawa Tengah. Untuk mendapatkan jajanan tradisional ini, kita dapat membelinya di pasar Babalan, Pasar Wage dan Pasar Wates.  Jajanan Tiwul dibuat oleh Ibu Sukini dan Ibu Verni  dari berasal dari desa Glagahwaru. Beberapa UKM pembuat tiwul di Desa Glagahwaru Kecamatan Undaan Kabupaten Kudus telah memasarkan produknya pada pasar-pasar di daerah sekitar.



Tiwul merupakan makanan berbahan dasar singkong atau ketela pohon. Makanan ini pada jaman dahulu dijadikan masyarakat Indonesia sebagai makanan pengganti beras atau nasi. Adapun cara membuat makanan ini yaitu singkong yang telah dikupas kulitnya kemudian dijemur hingga kering, Setelah singkong tersebut kering selanjutnya digiling/ditumbuk sampai halus hingga menjadi tepung. Tepung dingkong ini di daerah jawa biasa disebut atau dikenal dengan nama tepung gaplek atau tepung tapioka (tepung cassava).



Dari tepung inilah kemudian dicampur dengan air untuk dibuat menjadi adonan berbutir seperti pasir. Selanjutnya adonan tersebut dikukus selama kurang lebih satu jam, kemudian  ditiriskan di atas daun pisang, dan disajikan saat hangat bersama parutan kelapa dan sedikit garam. Bisa juga adonan singkong tersebut dicampur dengan gula merah, hal itu tergantung seleranya.



Ditulis oleh Yus Machrus




Sumber :

Blog Glagahwaru                      
Blog Kecamatan Undaan Kudus

Desa Undaan Tengah Kec. Undaan Kab. Kudus : Minuman Khas Tradisional Wedang Corro
















Wedang Coro
Sumber : Mustangcorps.com

Wedang “Coro” atau ada juga yang menuliskannya dengan kata “Corro” merupakan salah satu minuman tradisional khas masyarakat  Kabupaten Kudus dan masih dilestarikan masyarakat Desa Undaan Tengah, Kecamatan Undaan Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Wedang itu terkait dengan tradisi pertanian di Kudus karena biasanya diminum kala petani selesai panen dan tanam pada musim penghujan. Penyebutan kata “coro” pada wedang coro sebagai minuman tradisional khas tersebut karena disajikan dengan 'coro' atau cara demikian.










 
Wedang Corro

Wedang Corro mempunyai khasiat menyembuhkan berbagai macam penyakit seperti masuk angin, demam, dan perut kembung serta bisa menghangatkan tubuh. Selain itu, para petani di Desa Undaan Tengah meyakini wedang "coro" bisa menghilangkan lelah dan kecapean. Ramuan khas rempah – rempah yang terkandung dalam wedang corro adalah resep utama yang membuat Wedang corro banyak digemari oleh masyarakat di Undaan dan sekitarnya.

Wedang Coro/Corro didapatkan dari  resep turun-temurun atau pada zaman 'mak kuno' (nenek moyang) yang terbuat dari adonan tepung beras, gula aren atau gula merah, gaul (irisan kelapa yang digoreng), garam, serta rempah – rempah yang terdiri dari merica, sere, dan jahe. Minuman tradisional khas masyarakat  Kabupaten Kudus ini berwana krem, lebih kental seperti bubur, dan rasanya perpaduan manis, sedikit pedas, dan gurih.

Penyajian Wedang Coro/Corro harus dalam keadaan hangat sehingga khasiat yang terkandung didalamnya dapat diserap oleh tubuh sehingga  badan terasa hangat dan segar.

Untuk mendapatkan Wedang Coro/Corro ini bisa diperoleh di Warung Ny Ika yang beralamat di Desa Medini Gang 7 dan Gang 15, dan beberapa warung lainnya seperti warung dekat areal persawahan Desa Undaan Tengah yang lokasinya berada sekitar satu kilometer Balai Desa Undaan Tengah, Desa Glagahwaru, Desa Kalirejo, dan Desa Undaan Kidul yang kesemuanya masuk dalam wilayah Kecamatan Undaan Kabupaten Kudus Jawa Tengah. 

Wedang ini harganya cukup murah, Rp 2.000 per gelas.

Ditulis oleh Yus Machrus
Labels : Wisata Kuliner Desa

Sumber :
Kompas.com